PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan salah satu kegiatan kreatif yang
merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan menciptakan
sesuatu. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan menyampaiakan pesan
dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya. Dalam komunikasi tulis
setidaknya ada empat unsur yang terlibat di dalamnya yaitu penulis, pesan atau
isi tulisan, dan pembaca. Menulis merupakan suatu proses untuk menghasilakan
tulisan yang baik dan padanya umumnya dilakukan secara terus menerus. Sangat
sedikit orang yang menghasilkan karya tulis yang baik dengan hanya sekali
menulis. Tujuan menulis adalah untuk mengungkapkan gagasan, pendapat,
pengetahuan dan pengalaman secara tertulis. Menulis memiliki berbagai macam
jenis yang salah satunya berupa menulis karya sastra anak.
Sastra anak adalah hasil cipta dan ekspresi manusia yang
indah yang diciptakan untuk menyampaikan keindahan kepada penikmatnya terutama
para pembacanya dengan menggunakan keindahan bahasa sebagai penyampaiannya yang
tentunya mengacu kepada kehidupan cerita yang berkolerasi dengan dunia
anak-anak (dunia yang dipahami oleh anak). Sastra anak merupakan bagian penting
yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupana anak dengan dunianya yang penuh
imajinasi menjadi begitu besahabat dengan sastra (cerita), karena dalam cerita
dunia imajinasi anak bisa terwakili. Lewat sastra anak bisa mendapatkan duania
yang indah, lucu dan sederhana yang didalamnya terdapat unsur pendidikan yang
menyenangkan sehingga, tanpa dirasakan cerita menjadi sangat efektif dalam
menanamkan moral dan edukasi pada anak.
Sangat disayangkan sastra anak yang mempunyai
karakteristiknya sendiri harus tersisih dengan perkembangan sastra serius.
Padahal, buku teori dan kajian sastra terhadap anak menjadi elemen penting
dalam meningkatkan apresiasi anak terhadap sastra lebih dini. Karya sastra
mempunyai andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun beberapa masalah yang
akan di bahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi.
Beberapa masalah tersebut antara lain:
a.
Apa yang dimaksud dengan sastra anak?
b.
Apa saja cerita fiksi yang ada dalam sastra anak?
c.
Bagaimana penulisan kreatif sastra cerita anak?
1.3 Tujuan
Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang tercantum diatas maka dapat disusun
tujuan yang akan diperoleh dari
pembahasan yang akan dibahas di dalam makalah ini. Beberapa manfaat tersebuat
anatara laian :
a.
Dapat mengetahui apa itu sastra anak
b.
Mengerti apa saja yang ada dalam cerita fiksi sastra anak
c.
Mengetahui bagaimana cara penulisan kreatif sastra anak
secara benar
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini untuk penulis adalah untuk memberika
informasi bagi para pembaca makalah ini tentang bagaimana sastra anaka itu dan
cara membuat sastra anak dan memberikan penambahan ilmu bahwa ketrampilan anak
tidak lepas dari sebuah karya sastra. Sedangkan, manfaat bagi pemebca adalah
pembaca dapat menampah wawasan tetang karya sastra anak.
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Menulis
Menulis
adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu
media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan
menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.
Menulis
merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Dalam pembagian kemampuan berbahasa,
menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara,
dan membaca. Meskipun selalu ditulis paling akhir, bukan berarti menulis
merupakan kemampuan yang tidak penting.
Dalam menulis
semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar
mendapat hasil yang benar-benar baik. Henry Guntur Tarigan (1986: 15)
menyatakan bahwa menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan
ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai.
Menurut Djago
Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) menulis berarti
mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan
perasaan. Lado dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) juga
mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu: meletakkan simbol grafis yang
mewakili bahasa yang dimengerti orang lain.
Menulis dapat
dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton
dalam St. Y. Slamet (2008: 141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan
kompleks.
Menurut
Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) writing is one of the most important
things you do in college. Menulis merupakan salah satu hal paling penting yang
kamu lakukan di sekolah. Kemampuan menulis yang baik memegang peranan yang
penting dalam kesuksesan, baik itu menulis laporan, proposal atau tugas di
sekolah.
2.2 Pengertian Sastra Anak
Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut
untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat
diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan
pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk
struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak,
bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai
untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan
untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2)
Berdasarkan kutipan dari Solehan bahwa kata sastra
berarti karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan
bahasa (Rene Wellek, 1989). Karya seni imajinatif tersebutdapat dalam bentuk
lisan ataupun tertulis. Selanjutnya, kata anak dapat diartikan sebagai manusia
kecil (KBBI, 2000:41). Kata anak yanng dimaksud disini bukanlah anka balita
ataupun anak remaja, tetapi anak usia SD yang berumur antara 6 sampai 13 tahun.
Menurut Santoso (2003, 8.3) sastra anak adalah karya seni
yang imajinatif dengan usur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa baik
lisa maupun tertulis yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan
eriidi tentang dunia ayangg akrab dengan anak-anak. Sementara itu, menurut
Sarumpaet (Dalam Santoso, 2003, 8.3), sastra anak adalah karya satra yan
dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Artinya, sastra
anak ditulis oleh orang tua yang ditujukan kepada anak dan proses produksinya
pun dikerjakan oleh orang tua.
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan
berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak.
Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang
khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan
bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman
tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)
Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan
periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan
dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan
tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada
di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya
bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang
orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2)
Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas
sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain,
merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa
saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah
tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan
berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita
itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman
anak.
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Sastra Anak
3.1.1 Hakikat Sastra Anak
Sebuah buku dapat dipandang sebagai sastra anaka apabila jika citraan
dan metafora kehidupan yang dikisahkan baik dalam hal isi (emosi, perasaan,
pikiran, saraf,sensori dan pengalaman moral) maupun bentuk kebahasaan dan cara
pengekspresian dapat dijangkau dan dipahami oleh anak sesuai dengan tingkat
perkembangan jiwanya. Sastra anak adalah buku yang sengaja disediakan untuk
dibaca anak.
Isi kandungan sastra anak dibatasi dengan pengalaman dan pengetahuan
yang dimiliki anak, pengalaman dan pengetahuan yang dapat dijangkau dan
dipahami oleh anak, penalaman dan pengetahuan yang sesuai dengan dunia anak,
juga sesuai dengan perkembangan emosi dan psikologinya. Sastra anak adalah
sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi an dipahami oleh anak
dan pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah di imajinasikan.
Cerita tentang nostalgiayang melibatkan proses emosional yang sulit dan dengan
bahasa yang abstrak ditujukan untuk cerita dewasa bukan untuk anak.
Sastra anak juga dapat berkisah tentang apa saja bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal.
Misalnya kisah binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan
berperasaan layaknya manusia. Imanjinasi dan emosi anka dapat menerima cerita
semacam itu secara wajar dan memang sesuai menurut jangkauan pemahaman anak.
Isi cerita anak tidak harus baik-baik saja seperti, kisah anak yang rajin, suka
membantu ibu dan lain-lain. Anak-anak juga dapat menerima cerita “yang tidak
baik” seperti anak malas, anak pembohong, kucing pemalas, atau binatang yang
suka menganggu binatang lain. Cerita yang demikian bukannya tanpa moral tetapi
justru sebaliknya anak pun akan mengidentifikasi dengan sendirinya. Bahkan, cerita
anak pun dapat berkisah tetang apa saja yang menyankut masalah kehidupan ini
sehingga mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tetang
kehidupan itu sendiri. Bahkan cerita anak tidak harus selalu berakhir
menyenangkan, tetapi dapat juga sebaliknya. Huck dkk. (1987 : 6) menekankan
bahwa: children’s books are books that
have the child’s eye at the center. Sastra anak adalah sastra yang
menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan.
3.1.2 Genre Sastra
Anak
Sebagaimana halnya dalam sastra dewasa, sastra anak juga mengenal apa
yang disebut sebagai genre maka, pembicaraan tentang genre sastra anak juga
diperlukan. Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang
memiliki seperangkat karakteristik umum (Lukens, 2003:13). Menurut Mitchell
(2003:5-6) genre menuju pada pengertian tipe atau ketegori pengelompokan karya
sastra yang berdasarkan aktas stile, bentuk atau isi.
Pengemukaan genre karya sastra menurut Lukens (2003:14-34). Sastra anak
berbeda dengan sastra dewasa. Secara garis besar Lukens mengelompokan genre
sasra anak kedalam enam macam, yaitu :
1.
Realisme
Karakteristik umum cerita realisme adalah adalah narasi fiksional yang
menampilkan tokoh dengan karakter menarik yang dikemas dalam latar belakang
tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat di
kategorikan ke dalam realism seperti cerita realistik, realisme binatang,
realisme historis dan realisme olahraga.
2.
Fiksi Formula
Genre ini desbut fiksi formula karena memiliki pola-pola tertentu yang
membedakannya dengan jenis yang lain. Walau hal itu tidak mengurangi
orisinilitas cerita yang dikreasikan oleh penulis, keadaan itu mau tidak mau
merupakan sesuatu yang bersifat membatasi. Jenis sastra anak yang dapat di
kategorikan sebagai fiksi formula adalah cerita misteri dan detektif, cerita
romantis dan novel serial.
3.
Fantasi
Fantasi dapat dipahami sebagai “the
willing suspension of disbelief”(Coleridge, via Lukens, 1999:20), cerita
yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima. Fantasi sering juga disebut cerita
fantasi (literary fantasy) dan perlu
dibedakan dengan cerita rakyat fantasi karena cerita tersebut tidak dapat
diketahui penulis aslinya. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang
lazim dan dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh
pembaca. Jenis sastra anak ynag dapat dikelompokan kedalam fantasi ini adalah
cerita fantasi, fantasi tingkat tinggi, dan fiksi sains.
4.
Sastra Tradisional
Istilah “tradisional” dalam kesastraan menunjukan bahwa bentuk itu
berasal dari cerita yang telah metradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan
siapa penulisnya dan dikisahkan secara turun temurun secara lisan. Berbagai
cerita tradisional tersebut telah banyak dikumpulkan, dibukukan dan
dipublikasikan secara tertulis, antara lain dimaksudkan agar cerita itu tidak
hilang dari masyarakat mengingat kondisi masyarakat yang sudah berubah. Jenis
cerita yang dikelompokan kedalam genre ini adalah fable, dongeng rakyat,
mitologi, legenda dan epos.
5.
Puisi
Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika didalamnya terdapat
pendayagunaan bebagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi
tentulah singkat dan padat, dengan sedikt kata, tetapi dapat memndialogkan
sesuatu yang lebih banyak.
3.2 Cerita Fiksi Anak
3.2.1 Hakikat Cerita
Fiksi Anak
Sebagai sebuah karya sastra, cerita fiksi mesti menampilkan cerita, dan cerita
tentang misteri kehidupan tersebut dapat di pandang sebgai aspek isi. Artinya,
sesuatu yang menjadi isi ungkapan yang ingin disampaikan kepada piha lain
(pembaca).Isi cerita tersebut di jalin dalam sebuah rangkaina alur yang
menampilkan berbagai peristiwa dan tokoh yang jalin – menjalin secara serasi
yang dikemas dalam bahasa narasi dan dialog.
Karakteristik cerita fiksi sebenarnya tidak berbeda dengan hakikat
sastra, menurut Saxby (1991:4) pada
hakikatnya sastra dalah citra kehidupan, gambaran kehidupan (image of life). Dengan
citra kehidupan itu sastra dapat dipahami sebgai penggambarab secara konkret
tentang model-model kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehigupan yang
sesungguhnya di dunia sehingga mudah di imajinasikan oleh pembaca anak. Dalam
cerita fiksi tergambar peristiwa kehidupan lewat karakter dalam tokohdalam
menjalani kehidupan sebagaimana di ungkapkan dalam alur cerita.
Namun, bagaimanapun, cerita fiksi pertam-tama dan terutama ditujukan
kepada pembaca anak walau dalam praktiknya kita yang dewasa juga ikut
membacanya. Oleh karena itu, segala keterbatasan dan sekaligus pemeberian
kesempatan untuk penggambaran imajinasi mestilah diakomodasikan dalam cerita
fiksi anak. Cerita fiksi yang perhatiannya dalh citraan dan metafora kehidupan
haruslah dikisahkan dengan pertimbangan dapat dijangkau oleh anak sesuai dengan
tingkat perkembangan jiwanya.
Dengan demikian cerita fiksi anak, anak adalah subjek yang menjadi focus
perhatian, dan itu haruslah tecermin secara konkret dalm cerita. Hal itu
sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Huck dkk.(1987:6) yaitu bahwa: children’s books are books that have the
child’s eye at the center. Tokoh fiksi boleh siapa saja akan tetapi mesti
ada anak –anak, dan tokoh anak itu tidak saja menjadi pusat perhatian akan
tetapi juga menjadi pusat pengisahan. Buku cerita fiksi anak yang baik adalah
buku cerita ynag mengantarkan dari kacamata anak, hal itu adalh isi fundamental
dalam sastra anak. Dengan demikian, ketika membaca cerita fisi itu anak-anak
dengan mudah akan memahami, mengidentifikasi, dan mengembangkan fantasinya
lewat bacaan cerita fiksi.
3.2.2 Unsur Cerita Fiksi Anak
Sebuah karya sastra yang tersaji dihadapan pembacanya sebenarnya dalah
sebuah kesatuan dari elemen-elemen yang membentuknya yaitu dari istrinsik dan
ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita fiksi yang secara
langsung berada di dalam, menjadi bagaian, dan ikut membentuk eksistensi cerita
yang bersangkutan. Unsur fiksi yang termasuk dalam kategori ini misalnya adalah
tokoh dalam penokohan, alur, pengaluran, dan berbgai peristiwa yang
membentuknya, latar, sudut pandang dan lain-lain.
Unsur ekstrinsik, adalah unsur yang berada diluar teks fiksi yang
bersangkutan tetapi, mempunyaipenagruh terhadap bangunan cerita yang
dikisahkan, langsung dan tidak langsung. Hal-hal yang dapat di kategorikan ke
dalam bagian ini misalnya adalah jati diri pengarang yang mempunyai ideology,
pandangan hidup, kehidupan social-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita
dan lain-lain. Sebuah teks cerita fiksi yang hadir dihadapan kita, anak-anak,
pada hakikatnya merupakan “anak kandung” pengarangnya maka, ideologi pengarang
mesti mewarnai cerita yang ditulisnya.
Pembicaraan unsur cerita fiksi berikut lebih difokuskan terhadap unsur
instrinsik tanpa mengesampingkan unsur-unsur ekstrinsik yang ada:
1.
Tokoh
Ketika anak berhadapan dengan buku bacaan
cerita fiksi, apa yang mula-mula pertama menarik perhatian pada umumnya adalh
tokoh ceritanya. Tokoh cerita itulah yang pertama-tama menjadi focus perhatian
baik karena pelukisan fisiknya maupun karakter yang di sandangya.
Tokoh cerita dimaksudkan sebagai pelaku yang
dikisahkan perjalan hidupnya dalam cerita fiksi lewat alur baik sebagai pelaku
maupun pencerita berbagai peristiwa yang diceritakan. Dalam cerita fiksi anak
tokoh tidak harus berwujud manusia, seperti anak-anak atau dewasa lengkap
dengan nama dan karakternya, melainkan juga dapat berupa binatang atau suatu
objek yang lain biasanya merupakan bentuk personifikasi manusia. Bahkan bukan
dalam fable sekalipun, atau fable modern.
Jenis tokor cerita fiksi dapat dibedakan ke
dalam bermacam kategori tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Di
bawah ini adalah jenis-jenis tokoh:
a.
Tokoh Rekaan dan Tokoh Sejarah
b.
Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
c.
Tokoh Putih dan Tokoh Hitam
d.
Tokoh Datar dan Tokoh Bulas
e.
Tokoh Statis dan Berkembang
2.
Alur Cerita
Dalam kaitannya dengan sebuah teks cerita,
alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi,
dan akhirnya mencapai klimaks, serta bagaiman kisah itu diselesaikan.Alur
berkautan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh, dan segala sesuatu di
gerakan, dikisahkan sehingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang padu dan
menarik. Selain itu, alur mengatur berbagai peristiwa dan tokoh itu tampil
dalam urutan yang menarik, tetapi juga terjaga kelogisan yang terdapat dalam jalan
ceritanya.
Berbagai peristiwa yang dikisahkan bukan
sekadar peristiwa demi peristiwa tanpa ketegangan, tanpa konflik cerita
tersebut akan menjadi kurang menarik. Dalam cerita fiksi konflik lazimnya
terjadi jika tokoh protagonist berhadapan dengan tokoh yang antagonis. Lukens
(2003:1001-1006) mengemukakan bahwa dalam cerita fiksi, konflik dapat berupa
diantaranya:
a.
Konflik seseorang dengan dirinya.
b.
Konflik seseorang dengan orang lain.
c.
Konflik seseorang dengan masyarakat.
d.
Konflik seseorang dengan alam
Cerita fiksi hadir untuk menampilkan cerita
dan alur cerita itu berkembang dari awal hingga akhir. Sepanjang perkembangan
alur tersebut ada banyak aksi dan peristiwa yang dilakukan dan ditimpakan
kepada tokoh yang ditampilkan secara berurutan dan dapat diikiuti hubungan
sebab dan akibatnya. Berikut pola alur cerita antara lain:
a.
Awal, tengah, akhir.
b.
Kronologis dengan sorot-balik.
c.
Konflik dan klimaks.
d.
Kesatupaduan
e.
Suspense dan surprise.
3.
Latar
Latar (setting) dapat dipahami sebagi
landasan tumpu berlangsungya berbagi peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam
cerita fiksi. Peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi tidak
dapat terjadi begitu saja tanpa kejelasan landas tumpu. Latar yang dapat
diindara, dapat dilihat keberadaannya, seperti latar tempat yang berupa gedung
sekolah, rumah tempat tinggal,lapangan lazimnya disebut sebagai latar fisik (physical setting). Di pihak lain latar
yang dapat dirasakan kehadirannya tetapi tidak dapat diindrakan misalnya aturan
yang harus di patuhi di sebuah tempat, di masyarakat disebut sebagai (spiritual setting) Berikut cacam – macam latar:
a.
Latar tempat.
b.
Latar waktu
c.
Latar social dan budaya.
Kehadiran latar tidak
semata-mata berfungsi hanya sebgai landasan tumpu sebuah cerita tetapi juga
mengemban beberap fungsi yang lain. Namun, intensitas pemungsian latar
bervariasi diantara cerita fiksi yang kesemuanya bergantung pada niatan penulisnya.
Kehadiran unsur latar yang bersifat fungsional lazimnya lebih terkait dengan
berbagi unsur fiksi yang lain disamping juga terlihat memiliki funsi-funsi
tertentu diantaranya:
a.
Latar fungsional
b.
Latar sebagai penerjelas konfliks.
c.
Latar sebagai antagonis
d.
Latar sebagai penerjelas tokoh.
e.
Latar sebagai symbol.
4.
Tema
Secara sederhana tema dapat di pahami sebgai
gagasan yang mengikat cerita ( Lukens, 2003:129), mengikat berbagai unsur
intrinsic yang membangun cerita sehingga tampil sebuah unsur kesatupaduan yang
harmonis. Jadi dalam kaitan ini, tema merupakan dasar pengembanga dari sebuah
cerita. Sebagai sebuah gagasan yang ingin disampaikan tema di jabarkan dan
dikonkretkan sebagai unsur intrinsic.
5.
Amanat
Moral, pesan atau amanat dapat dipahami
sebgai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu selalu
berkaitan dengan baerbagai hal yang berkonotasi positif, bermanfaat bagi
kehidupan, dan mendidik. Moral berurusan dengan masalah baik dan buruk, namun
istilah moral itu selalu di konotasikan dengan hal-hal yang baik. Untuk bacaan
cerita istilah yang disampaikan dapat di pahami secar lebih konkret sebagai
mengajarkan.
6.
Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) dapat dipahami sebagai cara sebuah cerita
dikisahkan. Secara lebih konkret dan sudut pandang “siapa yang melihat, siapa
yang berbicara”, atau “dari kacamata siapa sesuatu itu dibicarakan”. Abrahams
(Via Nurgiyantoro, 2005:248) mengemukakan bahawa sudut pandang merupakan cara
atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebgai sarana menampilkan tokoh,
tindakan, latar dan bebagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah teks
fiksi kepada pembaca. Dibawah ini macam atau jenis sudt pandang diantaranya:
a.
Sudut pandang persona pertama
b.
Sudut pandang orang ketiga
7.
Stile dan Nada
Stile dan nada merupakan dua hal yang berkaitan erat.
Jika stile berkaitan dengan masalah pilihan berbagai aspek kebahasaan yang
dipergunakan dalam sebuah teks kesastraan, nada adalah sesuatu yang
terbangkitkan oleh
3.2.3 Macam
Cerita Fiksi Anak
Cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam bebrapa kategori berdasarkan
dari mana dilihat. Jika dilihat berdasarkan panjang pendeknya cerita yang
dikisahkan, ia dapat dibedakan menjadi novel dan cerita pendek. Beberapa jenis
dari pembagian tersebut antara lain:
1.
Novel dan Cerpen
2.
Fiksi Realistik.
3.
Fiksi Fantasi.
4.
Fiksi Historis.
3.3 Penulisan Kreatif Cerita Anak
3.3.1 Menulis sebagai ketrampilan berbahasa dan
proses keratif
Berdasarkan pada jenis ketrampilan berbahasa yang dimiliki manusia,
menulis merupakan jenis ketrampilan berbahasa yang menduduki posisi paling
tinggi setelah membaca, berbicara dan menyimak. Hal ini terjadi karena menulis
merupakan jenis ketrampilan berbahasa yang bersifat aktif, menuntut seseorang
bekerja untuk mendapatkan gagasan, mengolah gagasan dan menyampaikan gagasan
tersebut dalam bentuk kode-kode bahasa tulis. Dalam hal ini menulis merupakan
rangkaian kegiatan aktif yang dapat dijelaskan sebgai berikut:
1.
Sehubung dengan proses mendapatkan gagasan sebagai data
dan bahan tulis, menulis selau mengharuskan seseoramg untuk peka terhadap
berbagai fenomena dan persoalan yang terjadi di sekelilingnya, Karena bahan
yang selalu dijadikan gagasan dasar untuk menulis adalah fenomena yang menarik
orang yang akan menulisnya.
2.
Jika gagasan sebagai bahan dasar menulis telah di peroleh
maka individu yang akan menulis diharuskan untuk mengendapakan gagasan
tersebut. Proses pengendapan dan pengolahan gagasan ini dilakukan dalam pikiran
atau kegiatan praktis, misalnya membuat outline atau pokok-pokok pikiran yang
akan ditulis. Proses ini membwa kosekuensinya, penguasaan individu pada teori
dan ilmu penegtahuan yang memadai menjadi syarat yang harus dimiliki penulis.
3.
Jika gagsan
sebagai bahan dan data telah diolah dan di endapkan, tahap selanjutnya adalah
kegiatan menuangkannya, yaitu menuliskan dalam bentuk kode-kode bahasa tulis
atau proses pendokumentasian dalam bentuk penulisan. Pada tahap yang ketiga
ini, kemampuan penguasaan bahas pada aspek: kata, klausa, kalaimat, paragraph
dan wacana menjadi modal penting karena menulis adalah proses konkretisasi dari
gagasan-gagasan yang abstrak.
4.
Setelah tulisan jadi, tahap trakhir adalah pembacaan
ulang atau rereading. Pembacaan ulang
dilakukan dengan tujuan proses editing,
baik secara bahasa ataupun subtansi.
3.3.2 Cara
Menulis kreatif cerita anak
Bagi individu yang pemula atau yang baru memutuskan untuk menggeluti
penulisan anak maka cara yang akan disebutkan ini dapat di praktiakan,
berkaitan dengan proses kreatif dalam menulis cerita anak. Diantaranya :
1.
Mencari ide
Setiap orang yang mau menulis apapun, maka
persoalan pertamnya adalh “apa yang akan saya tulis?”. Pertanyaan ini tentu
berkaitan dengan bahan sebagai persoalan yanga kan ditulis. Ada banyak orang
yang kemudian menyebutnya inspirasi sebebagai bahan awal untuk menulis.
Menulis cerita anak dengan sumber atau ide
dari benda-benda yang ada di sekeliling kita lalu amatilah dengan seksama,
kemudian tanyakan pada diri kita benda apa yang paling menarik diantara itu
semua dan buat persoalan yang menyangkut tentang benda tersebut.
2.
Mengolah ide
Proses pengolahan ide dapat dilakukan secar
teknis dengan membuat outline atau garis-garis besar peristiwa yang akan
diceritakan. Setelah gambaran cerita sudah jelas diceritakan maka baru
dituliskan dalam bentuk sebenarnya.
3.
Menuliskan ide
Jika Anda sudah mendapatkan ide dan
mengolahnya dengan matang, maka yang harus anda lakukan adalah menuliskannya
dan jangan menunda. Tidak usah menghiraukan keragu-raguan dan kebingungan anda.
Lngsung saja menulis dan terserah Anda akan memulainya dari mana karena yang
terpenting jika keadaan sudah demikian adalah bagaimana ide yang keluar dari
otaka anda kita keluarkan dalam bentuk tulisan.
4.
Penyelesaian dan editing untuk penulisan
Setelah selesai menulis tenangkanlah pikiran terlebih
dahulu. Setelah merasa tenang selanjutnya adalah membaca kembali apa yang sudah
ditulis kemudian dalam pembacaan itu perbaikilah bahasa dan isi cerita dari
yang dituliskan itu
BAB 4
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Menulis merupakan salah
satu kegiatan kreatif yang merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan
serangkaian kegiatan menciptakan sesuatu. Menulis dapat didefinisikan sebagai
suatu kegiatan menyampaiakan pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai
medianya. Dalam komunikasi tulis setidaknya ada empat unsur yang terlibat di
dalamnya yaitu penulis, pesan atau isi tulisan, dan pembaca. Menulis merupakan
suatu proses untuk menghasilakan tulisan yang baik dan padanya umumnya
dilakukan secara terus menerus.
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional
psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya
berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan.
4.2 Saran
Penulisan sastra anak seharusnya lebih banyak dibuat lagi karena di era
modern ini seorang anak membutuhkan
bacaan yang sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa.
Daftar Pustaka
Kurniawan,
Heru. 2009. Sastra Anak dalam Kajian
Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika hingga Penulusan Kreatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Endaswara,
Suwardi. 2003. Membaca, Menulis,
Mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Wahidin. 2009. Hakikat
Sastra Anak. http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/ 2009/03/18/hakikat-sastra-anak/ (diunduh 07 Januari 2017
00.38 WIB)
Buguruesde, 2012.
Sastra Anak. https://buguruesde.wordpress.com/tag/sastra-anak/
2012/05/19/sastra anak/ (di undur 07 Januari 2017 00.45 WIB)