Jumat, 17 Februari 2017

makalah sastra anak



PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan salah satu kegiatan kreatif yang merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan menciptakan sesuatu. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan menyampaiakan pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya. Dalam komunikasi tulis setidaknya ada empat unsur yang terlibat di dalamnya yaitu penulis, pesan atau isi tulisan, dan pembaca. Menulis merupakan suatu proses untuk menghasilakan tulisan yang baik dan padanya umumnya dilakukan secara terus menerus. Sangat sedikit orang yang menghasilkan karya tulis yang baik dengan hanya sekali menulis. Tujuan menulis adalah untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, pengetahuan dan pengalaman secara tertulis. Menulis memiliki berbagai macam jenis yang salah satunya berupa menulis karya sastra anak.
Sastra anak adalah hasil cipta dan ekspresi manusia yang indah yang diciptakan untuk menyampaikan keindahan kepada penikmatnya terutama para pembacanya dengan menggunakan keindahan bahasa sebagai penyampaiannya yang tentunya mengacu kepada kehidupan cerita yang berkolerasi dengan dunia anak-anak (dunia yang dipahami oleh anak). Sastra anak merupakan bagian penting yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupana anak dengan dunianya yang penuh imajinasi menjadi begitu besahabat dengan sastra (cerita), karena dalam cerita dunia imajinasi anak bisa terwakili. Lewat sastra anak bisa mendapatkan duania yang indah, lucu dan sederhana yang didalamnya terdapat unsur pendidikan yang menyenangkan sehingga, tanpa dirasakan cerita menjadi sangat efektif dalam menanamkan moral dan edukasi pada anak.
Sangat disayangkan sastra anak yang mempunyai karakteristiknya sendiri harus tersisih dengan perkembangan sastra serius. Padahal, buku teori dan kajian sastra terhadap anak menjadi elemen penting dalam meningkatkan apresiasi anak terhadap sastra lebih dini. Karya sastra mempunyai andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.





1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun beberapa masalah yang akan di bahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan bab isi. Beberapa masalah tersebut antara lain:
a.             Apa yang dimaksud dengan sastra anak?
b.            Apa saja cerita fiksi yang ada dalam sastra anak?
c.             Bagaimana penulisan kreatif sastra cerita anak?
1.3  Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang tercantum diatas maka dapat disusun tujuan  yang akan diperoleh dari pembahasan yang akan dibahas di dalam makalah ini. Beberapa manfaat tersebuat anatara laian :
a.             Dapat mengetahui apa itu sastra anak
b.            Mengerti apa saja yang ada dalam cerita fiksi sastra anak
c.             Mengetahui bagaimana cara penulisan kreatif sastra anak secara benar
1.4   Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini untuk penulis adalah untuk memberika informasi bagi para pembaca makalah ini tentang bagaimana sastra anaka itu dan cara membuat sastra anak dan memberikan penambahan ilmu bahwa ketrampilan anak tidak lepas dari sebuah karya sastra. Sedangkan, manfaat bagi pemebca adalah pembaca dapat menampah wawasan tetang karya sastra anak.
     












BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.
Menulis merupakan salah satu kemampuan berbahasa. Dalam pembagian kemampuan berbahasa, menulis selalu diletakkan paling akhir setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Meskipun selalu ditulis paling akhir, bukan berarti menulis merupakan kemampuan yang tidak penting.
Dalam menulis semua unsur keterampilan berbahasa harus dikonsentrasikan secara penuh agar mendapat hasil yang benar-benar baik. Henry Guntur Tarigan (1986: 15) menyatakan bahwa menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai.
Menurut Djago Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Lado dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu: meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain.
Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton dalam St. Y. Slamet (2008: 141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks.
Menurut Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) writing is one of the most important things you do in college. Menulis merupakan salah satu hal paling penting yang kamu lakukan di sekolah. Kemampuan menulis yang baik memegang peranan yang penting dalam kesuksesan, baik itu menulis laporan, proposal atau tugas di sekolah.
2.2 Pengertian Sastra Anak
Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2)
Berdasarkan kutipan dari Solehan bahwa kata sastra berarti karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa (Rene Wellek, 1989). Karya seni imajinatif tersebutdapat dalam bentuk lisan ataupun tertulis. Selanjutnya, kata anak dapat diartikan sebagai manusia kecil (KBBI, 2000:41). Kata anak yanng dimaksud disini bukanlah anka balita ataupun anak remaja, tetapi anak usia SD yang berumur antara 6 sampai 13 tahun.
Menurut Santoso (2003, 8.3) sastra anak adalah karya seni yang imajinatif dengan usur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa baik lisa maupun tertulis yang secara khusus dapat  dipahami oleh anak-anak dan eriidi tentang dunia ayangg akrab dengan anak-anak. Sementara itu, menurut Sarumpaet (Dalam Santoso, 2003, 8.3), sastra anak adalah karya satra yan dikonsumsi anak dan diurus serta dikerjakan oleh orang tua. Artinya, sastra anak ditulis oleh orang tua yang ditujukan kepada anak dan proses produksinya pun dikerjakan oleh orang tua.
Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009)
Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2)
Menurut Huck dkk (1987:5) isi kandungan yang terbatas sesuai dengan jangkauan emosional dan psikologi anak itulah yang, antara lain, merupakan karekteristik sastra anak. Sastra anak dapat berkisah tentang apa saja, bahkan yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya berkisah tentang binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan berperasaan layaknya manusia. Imajinasi dan emosi anak dapat menerima cerita itu secara wajar dan memang begitulah seharusnya menurut jangkauan pemahaman anak.






























BAB 3

PEMBAHASAN
3.1 Sastra Anak
        3.1.1 Hakikat Sastra Anak
Sebuah buku dapat dipandang sebagai sastra anaka apabila jika citraan dan metafora kehidupan yang dikisahkan baik dalam hal isi (emosi, perasaan, pikiran, saraf,sensori dan pengalaman moral) maupun bentuk kebahasaan dan cara pengekspresian dapat dijangkau dan dipahami oleh anak sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya. Sastra anak adalah buku yang sengaja disediakan untuk dibaca anak.
Isi kandungan sastra anak dibatasi dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki anak, pengalaman dan pengetahuan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh anak, penalaman dan pengetahuan yang sesuai dengan dunia anak, juga sesuai dengan perkembangan emosi dan psikologinya. Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi an dipahami oleh anak dan pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah di imajinasikan. Cerita tentang nostalgiayang melibatkan proses emosional yang sulit dan dengan bahasa yang abstrak ditujukan untuk cerita dewasa bukan untuk anak.
Sastra anak juga dapat berkisah tentang apa saja bahkan  yang menurut ukuran dewasa tidak masuk akal. Misalnya kisah binatang yang dapat berbicara, bertingkah laku, berpikir dan berperasaan layaknya manusia. Imanjinasi dan emosi anka dapat menerima cerita semacam itu secara wajar dan memang sesuai menurut jangkauan pemahaman anak. Isi cerita anak tidak harus baik-baik saja seperti, kisah anak yang rajin, suka membantu ibu dan lain-lain. Anak-anak juga dapat menerima cerita “yang tidak baik” seperti anak malas, anak pembohong, kucing pemalas, atau binatang yang suka menganggu binatang lain. Cerita yang demikian bukannya tanpa moral tetapi justru sebaliknya anak pun akan mengidentifikasi dengan sendirinya. Bahkan, cerita anak pun dapat berkisah tetang apa saja yang menyankut masalah kehidupan ini sehingga mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih baik tetang kehidupan itu sendiri. Bahkan cerita anak tidak harus selalu berakhir menyenangkan, tetapi dapat juga sebaliknya. Huck dkk. (1987 : 6) menekankan bahwa: children’s books are books that have the child’s eye at the center. Sastra anak adalah sastra yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan.
3.1.2 Genre Sastra Anak
Sebagaimana halnya dalam sastra dewasa, sastra anak juga mengenal apa yang disebut sebagai genre maka, pembicaraan tentang genre sastra anak juga diperlukan. Genre dapat dipahami sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum (Lukens, 2003:13). Menurut Mitchell (2003:5-6) genre menuju pada pengertian tipe atau ketegori pengelompokan karya sastra yang berdasarkan aktas stile, bentuk atau isi.
Pengemukaan genre karya sastra menurut Lukens (2003:14-34). Sastra anak berbeda dengan sastra dewasa. Secara garis besar Lukens mengelompokan genre sasra anak kedalam enam macam, yaitu :
1.         Realisme
Karakteristik umum cerita realisme adalah adalah narasi fiksional yang menampilkan tokoh dengan karakter menarik yang dikemas dalam latar belakang tempat dan waktu yang dimungkinkan. Ada beberapa cerita yang dapat di kategorikan ke dalam realism seperti cerita realistik, realisme binatang, realisme historis dan realisme olahraga.
2.         Fiksi Formula
Genre ini desbut fiksi formula karena memiliki pola-pola tertentu yang membedakannya dengan jenis yang lain. Walau hal itu tidak mengurangi orisinilitas cerita yang dikreasikan oleh penulis, keadaan itu mau tidak mau merupakan sesuatu yang bersifat membatasi. Jenis sastra anak yang dapat di kategorikan sebagai fiksi formula adalah cerita misteri dan detektif, cerita romantis dan novel serial.
3.         Fantasi
Fantasi dapat dipahami sebagai “the willing suspension of disbelief”(Coleridge, via Lukens, 1999:20), cerita yang menawarkan sesuatu yang sulit diterima. Fantasi sering juga disebut cerita fantasi (literary fantasy) dan perlu dibedakan dengan cerita rakyat fantasi karena cerita tersebut tidak dapat diketahui penulis aslinya. Cerita fantasi dikembangkan lewat imajinasi yang lazim dan dapat diterima sehingga sebagai sebuah cerita dapat diterima oleh pembaca. Jenis sastra anak ynag dapat dikelompokan kedalam fantasi ini adalah cerita fantasi, fantasi tingkat tinggi, dan fiksi sains.
4.         Sastra Tradisional
Istilah “tradisional” dalam kesastraan menunjukan bahwa bentuk itu berasal dari cerita yang telah metradisi, tidak diketahui kapan mulainya dan siapa penulisnya dan dikisahkan secara turun temurun secara lisan. Berbagai cerita tradisional tersebut telah banyak dikumpulkan, dibukukan dan dipublikasikan secara tertulis, antara lain dimaksudkan agar cerita itu tidak hilang dari masyarakat mengingat kondisi masyarakat yang sudah berubah. Jenis cerita yang dikelompokan kedalam genre ini adalah fable, dongeng rakyat, mitologi, legenda dan epos.
5.         Puisi
Sebuah bentuk sastra disebut puisi jika didalamnya terdapat pendayagunaan bebagai unsur bahasa untuk mencapai efek keindahan. Bahasa puisi tentulah singkat dan padat, dengan sedikt kata, tetapi dapat memndialogkan sesuatu yang lebih banyak.
3.2 Cerita Fiksi Anak
3.2.1 Hakikat Cerita Fiksi Anak
Sebagai sebuah karya sastra, cerita fiksi mesti menampilkan cerita, dan cerita tentang misteri kehidupan tersebut dapat di pandang sebgai aspek isi. Artinya, sesuatu yang menjadi isi ungkapan yang ingin disampaikan kepada piha lain (pembaca).Isi cerita tersebut di jalin dalam sebuah rangkaina alur yang menampilkan berbagai peristiwa dan tokoh yang jalin – menjalin secara serasi yang dikemas dalam bahasa narasi dan dialog.
Karakteristik cerita fiksi sebenarnya tidak berbeda dengan hakikat sastra, menurut Saxby (1991:4) pada hakikatnya sastra dalah citra kehidupan, gambaran kehidupan (image of life). Dengan citra kehidupan itu sastra dapat dipahami sebgai penggambarab secara konkret tentang model-model kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehigupan yang sesungguhnya di dunia sehingga mudah di imajinasikan oleh pembaca anak. Dalam cerita fiksi tergambar peristiwa kehidupan lewat karakter dalam tokohdalam menjalani kehidupan sebagaimana di ungkapkan dalam alur cerita.
Namun, bagaimanapun, cerita fiksi pertam-tama dan terutama ditujukan kepada pembaca anak walau dalam praktiknya kita yang dewasa juga ikut membacanya. Oleh karena itu, segala keterbatasan dan sekaligus pemeberian kesempatan untuk penggambaran imajinasi mestilah diakomodasikan dalam cerita fiksi anak. Cerita fiksi yang perhatiannya dalh citraan dan metafora kehidupan haruslah dikisahkan dengan pertimbangan dapat dijangkau oleh anak sesuai dengan tingkat perkembangan jiwanya.
Dengan demikian cerita fiksi anak, anak adalah subjek yang menjadi focus perhatian, dan itu haruslah tecermin secara konkret dalm cerita. Hal itu sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Huck dkk.(1987:6) yaitu bahwa: children’s books are books that have the child’s eye at the center. Tokoh fiksi boleh siapa saja akan tetapi mesti ada anak –anak, dan tokoh anak itu tidak saja menjadi pusat perhatian akan tetapi juga menjadi pusat pengisahan. Buku cerita fiksi anak yang baik adalah buku cerita ynag mengantarkan dari kacamata anak, hal itu adalh isi fundamental dalam sastra anak. Dengan demikian, ketika membaca cerita fisi itu anak-anak dengan mudah akan memahami, mengidentifikasi, dan mengembangkan fantasinya lewat bacaan cerita fiksi.
3.2.2  Unsur Cerita Fiksi Anak
Sebuah karya sastra yang tersaji dihadapan pembacanya sebenarnya dalah sebuah kesatuan dari elemen-elemen yang membentuknya yaitu dari istrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita fiksi yang secara langsung berada di dalam, menjadi bagaian, dan ikut membentuk eksistensi cerita yang bersangkutan. Unsur fiksi yang termasuk dalam kategori ini misalnya adalah tokoh dalam penokohan, alur, pengaluran, dan berbgai peristiwa yang membentuknya, latar, sudut pandang dan lain-lain.
Unsur ekstrinsik, adalah unsur yang berada diluar teks fiksi yang bersangkutan tetapi, mempunyaipenagruh terhadap bangunan cerita yang dikisahkan, langsung dan tidak langsung. Hal-hal yang dapat di kategorikan ke dalam bagian ini misalnya adalah jati diri pengarang yang mempunyai ideology, pandangan hidup, kehidupan social-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita dan lain-lain. Sebuah teks cerita fiksi yang hadir dihadapan kita, anak-anak, pada hakikatnya merupakan “anak kandung” pengarangnya maka, ideologi pengarang mesti mewarnai cerita yang ditulisnya.
Pembicaraan unsur cerita fiksi berikut lebih difokuskan terhadap unsur instrinsik tanpa mengesampingkan unsur-unsur ekstrinsik yang ada:
1.      Tokoh
Ketika anak berhadapan dengan buku bacaan cerita fiksi, apa yang mula-mula pertama menarik perhatian pada umumnya adalh tokoh ceritanya. Tokoh cerita itulah yang pertama-tama menjadi focus perhatian baik karena pelukisan fisiknya maupun karakter yang di sandangya.
Tokoh cerita dimaksudkan sebagai pelaku yang dikisahkan perjalan hidupnya dalam cerita fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun pencerita berbagai peristiwa yang diceritakan. Dalam cerita fiksi anak tokoh tidak harus berwujud manusia, seperti anak-anak atau dewasa lengkap dengan nama dan karakternya, melainkan juga dapat berupa binatang atau suatu objek yang lain biasanya merupakan bentuk personifikasi manusia. Bahkan bukan dalam fable sekalipun, atau fable modern.
Jenis tokor cerita fiksi dapat dibedakan ke dalam bermacam kategori tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Di bawah ini adalah jenis-jenis tokoh:
a.       Tokoh Rekaan dan Tokoh Sejarah
b.      Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
c.       Tokoh Putih dan Tokoh Hitam
d.      Tokoh Datar dan Tokoh Bulas
e.       Tokoh Statis dan Berkembang
2.      Alur Cerita
Dalam kaitannya dengan sebuah teks cerita, alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi, dan akhirnya mencapai klimaks, serta bagaiman kisah itu diselesaikan.Alur berkautan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh, dan segala sesuatu di gerakan, dikisahkan sehingga menjadi sebuah rangkaian cerita yang padu dan menarik. Selain itu, alur mengatur berbagai peristiwa dan tokoh itu tampil dalam urutan yang menarik, tetapi juga terjaga kelogisan yang terdapat dalam jalan ceritanya.
Berbagai peristiwa yang dikisahkan bukan sekadar peristiwa demi peristiwa tanpa ketegangan, tanpa konflik cerita tersebut akan menjadi kurang menarik. Dalam cerita fiksi konflik lazimnya terjadi jika tokoh protagonist berhadapan dengan tokoh yang antagonis. Lukens (2003:1001-1006) mengemukakan bahwa dalam cerita fiksi, konflik dapat berupa diantaranya:
a.       Konflik seseorang dengan dirinya.
b.      Konflik seseorang dengan orang lain.
c.       Konflik seseorang dengan masyarakat.
d.      Konflik seseorang dengan alam
Cerita fiksi hadir untuk menampilkan cerita dan alur cerita itu berkembang dari awal hingga akhir. Sepanjang perkembangan alur tersebut ada banyak aksi dan peristiwa yang dilakukan dan ditimpakan kepada tokoh yang ditampilkan secara berurutan dan dapat diikiuti hubungan sebab dan akibatnya. Berikut pola alur cerita antara lain:
a.       Awal, tengah, akhir.
b.      Kronologis dengan sorot-balik.
c.       Konflik dan klimaks.
d.      Kesatupaduan
e.       Suspense dan surprise.
3.      Latar
Latar (setting) dapat dipahami sebagi landasan tumpu berlangsungya berbagi peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi. Peristiwa dan kisah yang diceritakan dalam cerita fiksi tidak dapat terjadi begitu saja tanpa kejelasan landas tumpu. Latar yang dapat diindara, dapat dilihat keberadaannya, seperti latar tempat yang berupa gedung sekolah, rumah tempat tinggal,lapangan lazimnya disebut sebagai latar fisik (physical setting). Di pihak lain latar yang dapat dirasakan kehadirannya tetapi tidak dapat diindrakan misalnya aturan yang harus di patuhi di sebuah tempat, di masyarakat disebut sebagai (spiritual setting)  Berikut cacam – macam latar:
a.       Latar tempat.
b.      Latar waktu
c.       Latar social dan budaya.
Kehadiran latar tidak semata-mata berfungsi hanya sebgai landasan tumpu sebuah cerita tetapi juga mengemban beberap fungsi yang lain. Namun, intensitas pemungsian latar bervariasi diantara cerita fiksi yang kesemuanya bergantung pada niatan penulisnya. Kehadiran unsur latar yang bersifat fungsional lazimnya lebih terkait dengan berbagi unsur fiksi yang lain disamping juga terlihat memiliki funsi-funsi tertentu diantaranya:
a.       Latar fungsional
b.      Latar sebagai penerjelas konfliks.
c.       Latar sebagai antagonis
d.      Latar sebagai penerjelas tokoh.
e.       Latar sebagai symbol.
4.      Tema
Secara sederhana tema dapat di pahami sebgai gagasan yang mengikat cerita ( Lukens, 2003:129), mengikat berbagai unsur intrinsic yang membangun cerita sehingga tampil sebuah unsur kesatupaduan yang harmonis. Jadi dalam kaitan ini, tema merupakan dasar pengembanga dari sebuah cerita. Sebagai sebuah gagasan yang ingin disampaikan tema di jabarkan dan dikonkretkan sebagai unsur intrinsic.
5.      Amanat
Moral, pesan atau amanat dapat dipahami sebgai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu selalu berkaitan dengan baerbagai hal yang berkonotasi positif, bermanfaat bagi kehidupan, dan mendidik. Moral berurusan dengan masalah baik dan buruk, namun istilah moral itu selalu di konotasikan dengan hal-hal yang baik. Untuk bacaan cerita istilah yang disampaikan dapat di pahami secar lebih konkret sebagai mengajarkan.
6.      Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) dapat dipahami sebagai cara sebuah cerita dikisahkan. Secara lebih konkret dan sudut pandang “siapa yang melihat, siapa yang berbicara”, atau “dari kacamata siapa sesuatu itu dibicarakan”. Abrahams (Via Nurgiyantoro, 2005:248) mengemukakan bahawa sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebgai sarana menampilkan tokoh, tindakan, latar dan bebagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah teks fiksi kepada pembaca. Dibawah ini macam atau jenis sudt pandang diantaranya:
a.       Sudut pandang persona pertama
b.      Sudut pandang orang ketiga
7.      Stile dan Nada
Stile dan nada merupakan dua hal yang berkaitan erat. Jika stile berkaitan dengan masalah pilihan berbagai aspek kebahasaan yang dipergunakan dalam sebuah teks kesastraan, nada adalah sesuatu yang terbangkitkan oleh  
      3.2.3    Macam Cerita Fiksi Anak
Cerita fiksi anak dapat dibedakan ke dalam bebrapa kategori berdasarkan dari mana dilihat. Jika dilihat berdasarkan panjang pendeknya cerita yang dikisahkan, ia dapat dibedakan menjadi novel dan cerita pendek. Beberapa jenis dari pembagian tersebut antara lain:
1.       Novel dan Cerpen
2.      Fiksi Realistik.
3.      Fiksi Fantasi.
4.      Fiksi Historis.
3.3 Penulisan Kreatif Cerita Anak
3.3.1   Menulis sebagai ketrampilan berbahasa dan proses keratif
Berdasarkan pada jenis ketrampilan berbahasa yang dimiliki manusia, menulis merupakan jenis ketrampilan berbahasa yang menduduki posisi paling tinggi setelah membaca, berbicara dan menyimak. Hal ini terjadi karena menulis merupakan jenis ketrampilan berbahasa yang bersifat aktif, menuntut seseorang bekerja untuk mendapatkan gagasan, mengolah gagasan dan menyampaikan gagasan tersebut dalam bentuk kode-kode bahasa tulis. Dalam hal ini menulis merupakan rangkaian kegiatan aktif yang dapat dijelaskan sebgai berikut:
1.      Sehubung dengan proses mendapatkan gagasan sebagai data dan bahan tulis, menulis selau mengharuskan seseoramg untuk peka terhadap berbagai fenomena dan persoalan yang terjadi di sekelilingnya, Karena bahan yang selalu dijadikan gagasan dasar untuk menulis adalah fenomena yang menarik orang yang akan menulisnya.
2.      Jika gagasan sebagai bahan dasar menulis telah di peroleh maka individu yang akan menulis diharuskan untuk mengendapakan gagasan tersebut. Proses pengendapan dan pengolahan gagasan ini dilakukan dalam pikiran atau kegiatan praktis, misalnya membuat outline atau pokok-pokok pikiran yang akan ditulis. Proses ini membwa kosekuensinya, penguasaan individu pada teori dan ilmu penegtahuan yang memadai menjadi syarat yang harus dimiliki penulis.
3.       Jika gagsan sebagai bahan dan data telah diolah dan di endapkan, tahap selanjutnya adalah kegiatan menuangkannya, yaitu menuliskan dalam bentuk kode-kode bahasa tulis atau proses pendokumentasian dalam bentuk penulisan. Pada tahap yang ketiga ini, kemampuan penguasaan bahas pada aspek: kata, klausa, kalaimat, paragraph dan wacana menjadi modal penting karena menulis adalah proses konkretisasi dari gagasan-gagasan yang abstrak.
4.      Setelah tulisan jadi, tahap trakhir adalah pembacaan ulang atau rereading. Pembacaan ulang dilakukan dengan tujuan proses editing, baik secara bahasa ataupun subtansi.
      3.3.2    Cara Menulis kreatif cerita anak
Bagi individu yang pemula atau yang baru memutuskan untuk menggeluti penulisan anak maka cara yang akan disebutkan ini dapat di praktiakan, berkaitan dengan proses kreatif dalam menulis cerita anak. Diantaranya :
1.      Mencari ide
Setiap orang yang mau menulis apapun, maka persoalan pertamnya adalh “apa yang akan saya tulis?”. Pertanyaan ini tentu berkaitan dengan bahan sebagai persoalan yanga kan ditulis. Ada banyak orang yang kemudian menyebutnya inspirasi sebebagai bahan awal untuk menulis.
Menulis cerita anak dengan sumber atau ide dari benda-benda yang ada di sekeliling kita lalu amatilah dengan seksama, kemudian tanyakan pada diri kita benda apa yang paling menarik diantara itu semua dan buat persoalan yang menyangkut tentang benda tersebut.
2.      Mengolah ide
Proses pengolahan ide dapat dilakukan secar teknis dengan membuat outline atau garis-garis besar peristiwa yang akan diceritakan. Setelah gambaran cerita sudah jelas diceritakan maka baru dituliskan dalam bentuk sebenarnya.
3.      Menuliskan ide
Jika Anda sudah mendapatkan ide dan mengolahnya dengan matang, maka yang harus anda lakukan adalah menuliskannya dan jangan menunda. Tidak usah menghiraukan keragu-raguan dan kebingungan anda. Lngsung saja menulis dan terserah Anda akan memulainya dari mana karena yang terpenting jika keadaan sudah demikian adalah bagaimana ide yang keluar dari otaka anda kita keluarkan dalam bentuk tulisan. 
4.      Penyelesaian dan editing untuk penulisan
Setelah selesai menulis tenangkanlah pikiran terlebih dahulu. Setelah merasa tenang selanjutnya adalah membaca kembali apa yang sudah ditulis kemudian dalam pembacaan itu perbaikilah bahasa dan isi cerita dari yang dituliskan itu
                                               


















BAB 4

SIMPULAN DAN SARAN
4.1       Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Menulis merupakan salah satu kegiatan kreatif yang merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan serangkaian kegiatan menciptakan sesuatu. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan menyampaiakan pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya. Dalam komunikasi tulis setidaknya ada empat unsur yang terlibat di dalamnya yaitu penulis, pesan atau isi tulisan, dan pembaca. Menulis merupakan suatu proses untuk menghasilakan tulisan yang baik dan padanya umumnya dilakukan secara terus menerus.
Sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, dan itu pada umumnya berangkat dari fakta yang konkret dan mudah diimajinasikan.
4.2 Saran
Penulisan sastra anak seharusnya lebih banyak dibuat lagi karena di era modern ini     seorang anak membutuhkan bacaan yang sesuai dengan usia dan perkembangan jiwa.
     
     














Daftar Pustaka

Kurniawan, Heru. 2009. Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika hingga Penulusan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Endaswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra. Yogyakarta: Kota Kembang.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Wahidin. 2009. Hakikat Sastra Anak. http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/ 2009/03/18/hakikat-sastra-anak/ (diunduh 07 Januari 2017 00.38 WIB)

Buguruesde, 2012. Sastra Anak. https://buguruesde.wordpress.com/tag/sastra-anak/ 2012/05/19/sastra anak/ (di undur 07 Januari 2017 00.45 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar